1965

Martono – Kisah Pembuang Mayat 1965

Facebook | Mon, April 10 2017

Written by Aboeprijadi Santoso · 2 min read >
Photo: Pengadilan Rakyat Internasional atas Kejahatan Kemanusiaan 1965 digelar di Den Haag, Belanda. (Dok. Akun Flickr International People's Tribunal Media)

Dipetik dari Dari Beranda Tribunal, Ultimus/Friends of International People’s Tribunal 1965, Jakarta/Amsterdam 2017, Bab “Manusia Manusia Target”, h. 124-133

Martono, bapak lebih separo umur yang krempeng itu, berdiri memandang hadirin. Dia baru saja menyampaikan kesaksiannya. Lalu mondar mandir di tengah kerumunan di Nieuwe Kerk, gedung gereja yang direnovasi tempat IPT (International People’s Tribunal), Pengadilan Rakyat Internasional tentang Tragedi 1965, bersidang di Den Haag, Belanda. Dia merasa bahagia setelah mengungkap kesaksiannya di muka publik. Dengan penampilannya yang khas, menutup kepala dengan muts (kupluk hangat) merah tua, dia menjawab pertanyaan-pertanyaan Jaksa dengan lancar. Suaranya enteng, kadang melengking, tapi gerak tubuhnya menunjukkan keseriusannya. Tanpa drama teatrikal.

“Ya, ya! .. Mbuang mayat-mayat itu kerjaan saya, betul!” tegasnya ketika saya dekati. Kisah bapak tukang listrik asal Solo ini amat ironis, nyaris surealis. Dia mengaku, berkat dianiaya berat namun selamat, dia mendapat tugas khusus –membuang mayat – yang membuat dirinya, akhirnya, mampu berkeluarga dan hidup bahagia.

Suatu hari di pertengahan 1966 Martono disergap tiga pria bertopeng ala ninja bersama dua anggota RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat). “Dengan tangan dan kaki terikat, saya diseret 150 meter ke jalan raya, dibawa ke Karang Menjangan, markas RPKAD di Sukohardjo, desa Kartasura, 13 km dari Solo.” Semalaman disiksa dan diperiksa, ditanya nama, partaimu apa, yang kamu bunuh berapa. “Karena tidak ketemu bukti, (saya) dilempar ke plafond, kepala ke eternit (atap) sampai tiga kali.” Rupanya tentara berdalih PKI (Partai Komunis Indonesia) telah bergerak dan membunuh orang.

Martono kemudian dipindahkan ke Balai Kota, kompleks Kasunanan Solo. “Disitu, dengan celana dalam doang, setiap pagi dipertontonkan kepada masyarakat. Semua tahanan yang dianggap penting, disiksa. Ada AURI (Angkatan Udara), polisi dan CPM (Corps Polisi Militer). Itu Korem 174. Disitu 12 meninggal.” Lalu dipindah ke Santono Mulyo. “Sekitar 2000 orang disitu. Selama setahun disitu, dibiarkan. Tidak diperiksa. Ada yang dibon, istilahnya. Itu pulang tinggal nama. Tiap malam ada kematian. Kodenya: ‘Bawa perlengkapan!’. Yang perintahkan Peperda, kantor gabungan RPKAD.”

Pertengahan 1967. “Setelah setahun, dipanggil Korem 174 untuk dipekerjakan sesuai keahlian saya. Masih berstatus tahanan, tapi tak ada bukti tertulis. Semua lisan. Karena konduit di Korem dianggap baik, mau dipekerjakan di bengkel listrik. Eh, .. ternyata tidak. Malam itu di CPM ada sengketa. Saya, satu-satunya sipil, jadi tahanan, dianggap otak penembakan. Disetrum di jempol kaki, tapi saya kebal. Akhirnya dibebaskan, tanpa surat. Dengan syarat bertugas ‘membuat banteng-banteng’. Itu bahasa Solo, (artinya) tiap ada yang dibantai, malamnya saya yang buang. Karena kalau malam kan nggak ada yang lihat.” Ketika mayat makin bertumpuk dan harus disingkirkan, Martono menjadi solusinya. Dari malam ke malam menjalani tugas itu, dia jadi kebal.

Jaksa: “Apa Anda mengalami trauma?”

Martono (lantang): “Sampai detik ini pun saya tidak trauma karena udah lihat mayat-mayat, udah dipukuli. Saya disini ini untuk mengungkap kebenaran.”

Jaksa: “Bagaimana perasaan Anda setelah hidup tersiksa?”

Martono: “Di satu sisi itu siksaan, tapi ada hikmahnya. Setelah keluar tahanan, saya bisa berrumah, beranak, bercucu, bahkan bercicit. Saya bisa menghidupi keluarga saya dengan bermayat.”

Mayat dan bangkai

Walhasil, mayat-mayat itu membebaskan Martono dari trauma panjang, namun juga menjadi wujud penistaan terhadap manusia-manusia yang harus dihabisi. Dengan truknya, dia mengangkut entah berapa puluh mayat setiap malam. Di tangan dia, mayat-mayat itu ‘turun pangkat’ jadi bangkai. Tanpa doa dan hormat layaknya bagi manusia yang tutup usia, dia menyeretnya ke tepi sungai. Baginya, doa dan hormat bukan tak penting, tapi mustahil. Penghinaan massal itu menjadi rutinitas yang dipaksakan pada dirinya, karena dia sendiri adalah warga, bagian dari masyarakat, yang dicampakkan, tak dihormati lagi, oleh negara penguasa negeri.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=jYHvLp1eiJ0&feature=youtu.be
Ibid

Martono yang terhina, harus melakukan penghinaan kepada sesamanya. Itulah pemandangan surealis, sekaligus pekerjaan keseharian baginya, di tahun-tahun celaka itu.

“Wah, paling capek itu Bung, itu kalau wik’en (akhir pekan). Pekerjaan bertumpuk. Mondar mandir, buang mayat ke sungai!” Dia tak peduli lagi siapa dan mengapa mayat-mayat itu dia seret dan buang.

Ibid

Dengan kata lain, Martono – seperti banyak korban 1965 – adalah korban berlipatganda. Dia jadi korban tanpa mengetahui apa kesalahannya seraya harus menistakan kehormatan dirinya mau pun sesamanya, sebagai bagian dari kerja-paksa demi menyambung hidupnya. Dia tahu apa sanksinya bila dia membangkang perintah sang komandan.

Syahdan, generasi baru datang dan bertanya, akan datang dan akan terus bertanya ‘apa yang terjadi’, ‘mengapa dan bagaimana bangsa ini sanggup melakukan pembunuhan massal dan sejumlah kejahatan lain terhadap sesama mereka sendiri’, dan ‘bagaimana mungkin kita selama ini begitu lama mendiamkannya’.

Untuk itu, Martono, para korban dan penyintas Genosida 1965 dan para peneliti akademis yang bersaksi dalam Tribunal IPT di Den Haag, telah menyumbangkan porsinya masing-masing yang amat berharga. Dengan pengalaman, nurani dan pengetahuan yang ada, ‘1965’ telah menjadi pembelajaran penting.

Ini mengingatkan saya pada kata-kata seorang korban 1965 yang saya temui di Brebes, Januari 2016.

“Kami ini manusia-manusia target, Bung! Anak-anak dan cucu saya yang belum lahir sekarang pun sudah terhukum!”

Kata-kata ini dasyhat. Dia datang dari seorang korban, warga awam, yang kebetulan anak seorang kader PKI. Ungkapannya amat bermakna bagi kemanusiaan, dan negara dan sebagian bangsa, yang masih mengabaikan dusta dan kejahatan yang terjadi.

Disitu, IPT merupakan sumbangan – suatu momentum historis  ..


Lihat juga: Ferry Putra, Setelah 1 Okt. 1965:
https://www.youtube.com/watch?v=jYHvLp1eiJ

Written by Aboeprijadi Santoso
Independent Journalist in the Fields of Anthropology, Political History, Political Science and Social History. Formerly with Radio Netherlands. Profile

One Reply to “Martono – Kisah Pembuang Mayat 1965”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *